Saturday, December 14, 2013

Cool Like a Neptune


“Ah! Sekolah lagi!” kata Roni membaringkan badannya di atas tempat tidurnya.
Dia melihat foto disampingnya yang berupa foto hitam putih, dia masih ingat, dialah yang memfotonya.Seketika dia mengingat dimana kehangatan keluarganya masih terasa, tapi sayang. Sekarang sudah tak terasa lagi, disini terasa beku seperti di dalam planet Neptunus yang pernah ia baca dulu, sangat dingin, mungkin melebihi sebuah kulkas yang ada di dapur rumahnya.
“Bu.. aku rindu ibu!” ucap Roni seraya memeluk foto tersebut.
 Roni segera berlari menuju gerbang sekolah, dia melihat jam tangannya yang seolah-olah terus menerus berputar tiada henti.
Dia kembali melihat kearah gerbang sekolahnya yang hampir saja.. “Bang! Bukain dong!” kata Roni terengah-engah.
 “Tapi udah jam tujuh dek!” katanya menunjukan sebuah jam.
 “Udah.. gak apa-apa lah! Bentar lagi nih!” kata Roni melihat sekeliling. “Argh!” tak pikir panjang Roni segera meerobos gerbang itu.
“Bang! Makasih!” ucap Roni terus berlari. “Untung aja baik! Coba kalau galak!” lanjutnya dibarengi dengan tawaan yang sangat keras sampai-sampai semuanya melirik kearahnya.
Roni langsung mengacak-acak rambutnya, entah apa yang ada di pikiran anak itu, walaupun banyak yang melihat ke arahnya dia tak peduli, dia terus melakukannya, seperti orang yang sedang dalam keadaan stres.
“Lo kenapa sih?!” kata seseorang yang akhirnya terusik juga oleh tingkah lakunya.
Roni kaget, dia segera melihat ke arah suara tersebut.
“Eh? Luna?” ucap Roni tertawa.
“Lo ternyata! Lo ngikutin gue ye?!” kata Luna kesal.
“Enggak! Kata siapa, Lun? Aku kesini justru karena ayahku!” jawab Roni langsung berdiri.
“Halah! Itu cuma alesan lo.. lo ngikutin gue kan? Udah! Ngaku aja lo!” ucap Luna sekali lagi, tetapi kali ini dibarengi dengan suara 'cie' dari semua orang.
“Hei! Kenapa kalian bilang cie?” kata Luna menatap tajam semua orang. Hening sesaat.
 “Buka buku kalian!”
 “Lo tau? Gue kesepian..” ucap Luna melemparkan sebuah batu.
 “Memangnya kenapa?” tanya Roni seraya tertawa saat batunya mengenai seseorang.
 “Gue..” Luna langsung berhenti melemparkan sebuah batu.
“..Pulang, udah sore, nanti bokap gue nyariin gue..” kata Luna langsung berdiri.
“Cepet banget!” ucap Roni memegangi salah satu ujung baju Luna.
 “Ah! Lo kepo!” kata Luna tertawa.
“Siapa yang kepo!” Roni langsung melepaskan ujung baju tersebut.
 “Udah aku bilang, yah! Aku gak suka sekolah disana!” Ucap Roni kesal melihat ayahnya yang dari tadi tidak mendengarkan ocehannya sama sekali.
“..Terus.. disana gak ada yang bisa aku lakukan, yah!” Lanjut Roni semakin kesal dengan tingkah laku ayahnya itu.
“jangan buat ayah pusing! Sukur-sukur kamu bisa sekolah!” Kata ayahnya singkat, mendengar kata-kata itu Roni hanya bisa terdiam, tak pernah ia dengar ayahnya berkata seperti itu, ya.. tak pernah dia mendengar ayahnya berkata seperti itu.
“Sudah! Kalau kau berbicara seperti itu lagi, ayah berjanji tidak akan menyekolahkan kamu lagi! Sudah! Tidur sana!” ucap ayahnya ketus.
 Roni hanya terdiam mendengar ayahnya seperti itu, dia masih ingin bersekolah dan meraih mimpinya dulu.
“..kalau kau masih disana, besok kau tidak akan mendapatkan uang jajan..” tambah ayahnya yang masih menyadari anaknya masih di belakangnya.
 Roni yang mendengar perkataan tersebut segera menuju kamarnya, kali ini dia mengalah.
 “Apa!? Jalan bebek??” ucap Roni tak percaya.
 “Iya! Sekarang kamu jalan bebek dari sini sampai lapangan!” jawab seseorang yang ada di depannya.
“Tapi.. Tapi..” kata Roni berdalih.
“Ah! Tidak ada alasan! Sekarang juga kamu lakukan!” orang itu semakin marah kepada Roni, Roni hanya bisa menghela nafas dan segera melakukannya.
 Selangkah demi selangkah dia berjalan menirukan cara berjalan 'bebek'. Setiap tempat yang dia lewati pasti selalu ada yang tertawa, dia heran, rasanya ini biasa saja, sebenarnya ada apa? Penasaran, Roni segera berhenti dan melihat sekeliling. Di belakangnya ada seorang anak yang seumuran dan melakukan hal yang sama dengannya.
“Apa sih yang lucu?!”
Dan, suatu saat Venus pun akan redup
“Kamu baik-baik saja?” ucap Roni melihat badan orang itu memar-memar, entah karena apa.
 “Ngapain lo peduli!” ucap orang itu segera berdiri.
 “Loh.. aku hanya heran..” ucap Roni melihat wajahnya dari bawah, di sebelah kiri bajunya terdapat tulisan
“Sonni Hermanto”, ya.. orang yang pertama kali yang diketahui oleh Roni setelah Luna.
 “Udah! Lo ngapain sih!” ucap Sonni semakin kesal dengan perilaku Roni
 “Enggak, cuma nyoba ngobatin.. dikit.. aja..” ucap Roni sambil tersenyum.
 Sonni langsung menjauhi Roni.
“Eh! Mau kemana?” ucap Roni mengejar dia.
“Eh! Kenapa kalian berdua pacaran?! Cepat jalan bebek!!” ucap seseorang dari belakang, mendengar itu Roni langsung terdiam.
“CEPAT!!” lanjut orang itu semakin marah.
“IYA!!” ucap Roni tak sengaja melemparkan sesuatu ke belakang. Orang itu langsung memegangi matanya yang memerah, dia segera mengepalkan tangan dan hampir saja kepalan tangannya itu mengenai kepala Roni yang malang.
“Maaf kak! Suer deh! Gak segaja!” Ucap Roni memohon kepada orang itu dan sedikit merasa ketakutan.
“Baru masuk udah kurang ajar! Gimana kalau nanti?” Orang itu semakin kesal dengan semua alasan yang di buat Roni.
“Tapi! Tapi!” Kata Roni memelas.
“Ah! Anak kecil itu..” ucap seorang perempuan datang sambil menjewer telinga orang yang membentak Roni itu.
“Bener tuh kak! Denger!” Kata Roni kegirangan mendengar ada yang membelanya.
“Makin kurang ajar aja ni anak..” ucap orang yang di depan Roni sambil memegangi telinganya yang sedikit lecet.
“Udah, Ben! Lo kebangetan!” Ucap perempuan itu menjitak kepala orang yang dipanggilnya 'Ben' itu.
“Udah, dek.. jangan dengerin bibir orang ini! Mulutnya kaya keran air!” Lanjut perempuan itu segera menarik tangan Roni.
 “Kak.. kita mau kemana?” Ucap Roni melihat wajah orang itu yang lebih tinggi darinya.
“Ke kelas kamu lah! Masa ke got sih?” Jawabnya diselingi oleh tawa.
Roni hanya bisa tersenyum, “Mungkin.. suatu saat aku akan menyukai tempat ini..”
“Ini kelas mu kan?” Ucap perempuan itu tersenyum,
Roni hanya bisa membalasnya dengan senyuman juga.
“Cepet! Nanti event nya ketinggalan lho..” Roni hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam.
Tiba-tiba semua orang tertawa melihat Roni memasuki kelas dengan wajahnya yang berbinar. Roni mengacuhkannya, dia segera duduk dan memperhatikan keadaan sekitar, setelahnya dia segera mencoba untuk tidur.
“Woy! Malah tidur di kelas!” ucap Luna membanting sebuah buku di hadapan Roni.
Semua orang kaget mendengar suara buku yang dibanting itu,
“Ngapain sih? Gak ada kerjaan banget!” kata Roni mengucek-ngucek matanya.
“Biar mata lo jadi melek! Biar gak kaya panda yang matanya item kaya muka lo!” ucap Luna memberikan sebuah buku.
“Apa dunia mau kiamat?!” ucap Roni kaget akan keanehan yang menimpa Luna itu.
“Hey! Masih mending ya gue baik sama lo! Jarang-jarang gue kaya gini ke orang!” ucap Luna sedikit membentak, di belakang mereka orang-orang sedang membicarakan mereka berdua.
Tiba-tiba bel berbunyi dan semua orang kembali duduk dengan tenang. Sambil menopang dagu dengan tangannya, Roni membayangkan kehidupannya yang dulu.
“Pa! Aku pulang!” ucap Roni tersenyum dan wajahnya memancarkan sebuah cahaya kebahagiaan.
Roni terus berjalan di dalam rumahnya yang luas, dia terkadang merasa kesepian karena tak ada yang menemaninya sedikitpun. Bahkan, kakaknya sendiri. Ya, seperti orang-orang, dia mulai terjerumus pada suatu hal yang sangat dibenci oleh adiknya sendiri.
“Yah! Ayah dimana sih?” Roni segera mencari kemana-mana, akhir-akhir ini ayahnya seperti ini. Semenjak ayahnya dipecat dari pekerjaannya dulu. Roni menghela nafas,
 “Mungkin ia sedang mencari kerja?” kata Roni bergumam, kemudian dia mengangkat bahunya dan segera menuju dapur.
 Dia melihat rak-rak yang biasanya berisi makanan, sekarang hanya berisi sebuah udara hampa. Tiba-tiba perutnya bersuara, Roni refleks memegangi perutnya, dia sudah hampir belum makan seharian. Dia melihat sebuah jam dinding yang ada di belakangnya.
“Masih jam tiga sore..” ucap Roni duduk di meja makan.
 “..Sebentar lagi kok..” tambahnya segera tertidur. Entah berapa lama dia tertidur, saking nyenyaknya, dia tidak mendengar ada yang membuka pintu.
 Roni segera membuka matanya, semuanya gelap. Roni mencoba untuk menyalakan lampu, dia meraba-meraba dinding.
“Rasanya aku masih bisa mengingat dimana tempatnya..” Roni terus meraba-raba, setelah merasa disana letaknya, Roni segera menekannya.
 “Apa mati lampu?” ucap Roni terus meraba-raba dinding.
 “Apa ayah mulai menjadi pikun?” tambah Roni diselingi dengan gelak tawa dan langsung memeriksanya.
“Benerkan.. pasti ayah lupa membayar listrik..” ucap Roni mengehela nafas. Dia melihat langit malam yang sangat terang,
“Apa semuanya masih bisa seperti dulu?” kata Roni memegangi perutnya yang masih bersuara.
 “Mungkin.. aku harus mencari makanan dulu..” kata Roni segera menutup pintu dan mencari dompetnya.
 “Nah! Akhirnya!” ucap Roni kegirangan. Dia segera berlari menuju gerbang pintu.
Dia melihat seseorang jatuh tersungkur, sejujurnya tidak jelas siapa, tapi sepertinya..
 “AYAH!” ucap Roni kaget dan segera membangunkannya.
 “Ayah! Kau tidak apa-apa?” kata Roni mencoba untuk membantunya bangun.
“Tenang yah! Aku akan membantu!” lanjutnya terus berusaha membantunya berdiri. Tapi, hasilnya justru ia dan ayahnya sama-sama jatuh kembali.
“Ugh! Siapa saja!! bantu aku!” mata Roni seakan akan menjatuhkan air mata.
Tak berapa lama dia jatuh tersungkur dan menutup mata.
 “Dimana aku?” ucap Roni membuka mata dan langsung melihat sekeliling, Roni segera berjalan mencari sesuatu, disini sangat terang, entah karena apa yang membuat tempat ini sangat terang.
“Halo! Apa ada orang disini?” Roni berteriak, berharap ada yang mendengarkannya, tapi sayang, disini tak ada yang menyahutnya. Roni segera berhenti, disini seperti tak ada ujungnya, dia melihat kemanapun sama, tak ada ujungnya!
“Sebenarnya dimana ini? Seorang saja! Beritahu aku!” Roni berlari mencari jalan keluar, dia tidak mau menyerah disini. Dia bisa saja mati kelaparan, karena tadi dia tidak sempat membeli makanan satupun. Dia terus berlari dan terus berlari, dia segera teringat, ayahnya. Ya! Ayahnya! Pasti dia masih tertidur di tempat itu.
“AYAH!!” ucap Roni berteriak memanggil ayahnya sekeras-kerasnya.
***
 “Ayah!” ucap Roni berteriak sampai-sampai mengagetkan semua orang yang berada di sekitarnya.
“Kau masih mengantuk, Ron?” ucap teman sebangkunya, Tio.
 “Mungkin.. aku kekurangan tidur dari kemarin.. mengganggu ya?” ucap Roni menggaruk bagian belakang kepalanya.
“Hm..” Tio memegangi kepalanya yang sedikit pusing oleh pelajaran yang baru saja dia pelajari, Matematika.
 “..mungkin saja.. tapi kau bisa mengusir logika ku yang mulai meleleh! Terima kasih..” lanjut Tio tersenyum kepada Roni,
“Terima kasih? Baru kali ini aku mendengar kata itu dengan ketulusan yang luar biasa.. apa dia cuma akting?” Roni terus memandang wajah Tio yang sangat bersih, berbeda dengannya yang wajahnya sudah seperti anak SMA.
“Terima kasih juga, Tio..” kata Roni menjitak kepala Tio yang sangat kecil, melebihi Luna.
“Sakit!” ucap Tio memegangi kepalanya yang berdenyut,
 “Ah! Lebay!” balas Roni tertawa.
“Ah! Diem! Dibaikin malah kayak gini!” ucap Tio menyesal telah berbuat baik kepada Roni.
“Ah.. aku kan cuma bercanda..” katanya meminta maaf. Tio hanya terdiam sambil memegangi kepalanya yang masih berdenyut.
 “Iya.. iya deh..” Roni pun segera tersenyum lebar, tak berapa lama dia melihat ke arah bangku Luna,
“Kosong.. kemana dia? Cepat sekali menghilangnya..” Roni segera menyikut Tio.
 “Kemana nenek lampir itu?” ucapnya terheran-heran.
 “Mana aku tau! Aku kan sedang mengerjakan soal yang mematikan!” jawab Tio dengan nada membentak.
“Yaelah! Biasa aja kali!” ucap Roni tertawa terbahak-bahak.
Roni segera bangun dari tempatnya dan berjalan keluar kelas, di dalam kelasnya pengap sekali

dia ingin bebas seperti burung yang bertebangan dan menghirup udara segar setiap detiknya.

“Kalau mau di depan kelas, jangan gitu kali!” ucap seseorang di samping Roni,
 “Eh, Luna.. kemana aja?” kata Roni mendekatinya.
 “Loh? Justru lo yang kemana aja!” ucap Luna mencubit hidung Roni dengan keras.
 “SAKIT!!” kata Roni memegangi hidungnya yang memerah dan segera berdiri kembali.
“Eh! Mau kemana lo?!” ucap Luna melihat Roni yang akan berjalan kembali.
“Mau jalan-jalan aje! Mau ikut?” jawab Roni berjalan sambil melambaikan tangan.
“Kebiasaan! Kesini cuma nanya gituan? Sebenrnya lo itu makhluk apa sih!” ucap Luna semakin kesal.

Kalau aku kehilangan lebih dari ini, akankah hatiku dimaafkan?
Berapa banyak lagi penderitaan harus kulalui untuk dapat bertemu denganmu sekali lagi?
One more time, oh musim, jangan berubah
One more time, saat kita bercanda ria

Setiap kali kita beda pendapat, aku akan selalu yang mengalah duluan
Sifat egoismu itu malah membuatku semakin menyukaimu
One more chance, kenangan menahan langkahku
One more chance, aku tak dapat memilih tujuanku selanjutnya



0 comments:

Post a Comment