“Ah! Sekolah
lagi!” kata Roni membaringkan badannya di atas tempat tidurnya.
Dia melihat foto
disampingnya yang berupa foto hitam putih, dia masih ingat, dialah yang
memfotonya.Seketika dia mengingat dimana kehangatan keluarganya masih terasa,
tapi sayang. Sekarang sudah tak terasa lagi, disini terasa beku seperti di
dalam planet Neptunus yang pernah ia baca dulu, sangat dingin, mungkin melebihi
sebuah kulkas yang ada di dapur rumahnya.
Roni segera berlari menuju gerbang sekolah,
dia melihat jam tangannya yang seolah-olah terus menerus berputar tiada henti.
Dia kembali
melihat kearah gerbang sekolahnya yang hampir saja.. “Bang! Bukain dong!” kata
Roni terengah-engah.
“Tapi udah jam tujuh dek!” katanya menunjukan
sebuah jam.
“Udah.. gak apa-apa lah! Bentar lagi nih!”
kata Roni melihat sekeliling. “Argh!” tak pikir panjang Roni segera meerobos
gerbang itu.
“Bang! Makasih!”
ucap Roni terus berlari. “Untung aja baik! Coba kalau galak!” lanjutnya
dibarengi dengan tawaan yang sangat keras sampai-sampai semuanya melirik kearahnya.
Roni langsung
mengacak-acak rambutnya, entah apa yang ada di pikiran anak itu, walaupun
banyak yang melihat ke arahnya dia tak peduli, dia terus melakukannya, seperti
orang yang sedang dalam keadaan stres.
“Lo kenapa
sih?!” kata seseorang yang akhirnya terusik juga oleh tingkah lakunya.
Roni kaget, dia
segera melihat ke arah suara tersebut.
“Eh? Luna?” ucap
Roni tertawa.
“Lo ternyata! Lo
ngikutin gue ye?!” kata Luna kesal.
“Enggak! Kata
siapa, Lun? Aku kesini justru karena ayahku!” jawab Roni langsung berdiri.
“Halah! Itu cuma
alesan lo.. lo ngikutin gue kan? Udah! Ngaku aja lo!” ucap Luna sekali lagi,
tetapi kali ini dibarengi dengan suara 'cie' dari semua orang.
“Hei! Kenapa
kalian bilang cie?” kata Luna menatap tajam semua orang. Hening sesaat.
“Buka buku kalian!”
“Lo tau? Gue kesepian..” ucap Luna melemparkan
sebuah batu.
“Memangnya kenapa?” tanya Roni seraya tertawa
saat batunya mengenai seseorang.
“Gue..” Luna langsung berhenti melemparkan
sebuah batu.
“..Pulang, udah
sore, nanti bokap gue nyariin gue..” kata Luna langsung berdiri.
“Cepet banget!”
ucap Roni memegangi salah satu ujung baju Luna.
“Ah! Lo kepo!” kata Luna tertawa.
“Siapa yang
kepo!” Roni langsung melepaskan ujung baju tersebut.
“Udah aku bilang, yah! Aku gak suka sekolah
disana!” Ucap Roni kesal melihat ayahnya yang dari tadi tidak mendengarkan
ocehannya sama sekali.
“..Terus..
disana gak ada yang bisa aku lakukan, yah!” Lanjut Roni semakin kesal dengan
tingkah laku ayahnya itu.
“jangan buat
ayah pusing! Sukur-sukur kamu bisa sekolah!” Kata ayahnya singkat, mendengar
kata-kata itu Roni hanya bisa terdiam, tak pernah ia dengar ayahnya berkata
seperti itu, ya.. tak pernah dia mendengar ayahnya berkata seperti itu.
“Sudah! Kalau kau
berbicara seperti itu lagi, ayah berjanji tidak akan menyekolahkan kamu lagi!
Sudah! Tidur sana!” ucap ayahnya ketus.
Roni hanya terdiam mendengar ayahnya seperti
itu, dia masih ingin bersekolah dan meraih mimpinya dulu.
“..kalau kau
masih disana, besok kau tidak akan mendapatkan uang jajan..” tambah ayahnya
yang masih menyadari anaknya masih di belakangnya.
Roni yang mendengar perkataan tersebut segera
menuju kamarnya, kali ini dia mengalah.
“Apa!? Jalan bebek??” ucap Roni tak percaya.
“Iya! Sekarang kamu jalan bebek dari sini
sampai lapangan!” jawab seseorang yang ada di depannya.
“Tapi.. Tapi..”
kata Roni berdalih.
“Ah! Tidak ada
alasan! Sekarang juga kamu lakukan!” orang itu semakin marah kepada Roni, Roni
hanya bisa menghela nafas dan segera melakukannya.
Selangkah demi selangkah dia berjalan
menirukan cara berjalan 'bebek'. Setiap tempat yang dia lewati pasti selalu ada
yang tertawa, dia heran, rasanya ini biasa saja, sebenarnya ada apa? Penasaran,
Roni segera berhenti dan melihat sekeliling. Di belakangnya ada seorang anak
yang seumuran dan melakukan hal yang sama dengannya.
“Apa sih yang
lucu?!”
Dan, suatu saat Venus pun akan redup
“Kamu baik-baik
saja?” ucap Roni melihat badan orang itu memar-memar, entah karena apa.
“Ngapain lo peduli!” ucap orang itu segera
berdiri.
“Loh.. aku hanya heran..” ucap Roni melihat
wajahnya dari bawah, di sebelah kiri bajunya terdapat tulisan
“Sonni
Hermanto”, ya.. orang yang pertama kali yang diketahui oleh Roni setelah Luna.
“Udah! Lo ngapain sih!” ucap Sonni semakin
kesal dengan perilaku Roni
“Enggak, cuma nyoba ngobatin.. dikit.. aja..”
ucap Roni sambil tersenyum.
Sonni langsung menjauhi Roni.
“Eh! Mau
kemana?” ucap Roni mengejar dia.
“Eh! Kenapa
kalian berdua pacaran?! Cepat jalan bebek!!” ucap seseorang dari belakang,
mendengar itu Roni langsung terdiam.
“CEPAT!!” lanjut
orang itu semakin marah.
“IYA!!” ucap
Roni tak sengaja melemparkan sesuatu ke belakang. Orang itu langsung memegangi
matanya yang memerah, dia segera mengepalkan tangan dan hampir saja kepalan
tangannya itu mengenai kepala Roni yang malang.
“Maaf kak! Suer
deh! Gak segaja!” Ucap Roni memohon kepada orang itu dan sedikit merasa
ketakutan.
“Baru masuk udah
kurang ajar! Gimana kalau nanti?” Orang itu semakin kesal dengan semua alasan
yang di buat Roni.
“Tapi! Tapi!”
Kata Roni memelas.
“Ah! Anak kecil
itu..” ucap seorang perempuan datang sambil menjewer telinga orang yang
membentak Roni itu.
“Bener tuh kak!
Denger!” Kata Roni kegirangan mendengar ada yang membelanya.
“Makin kurang
ajar aja ni anak..” ucap orang yang di depan Roni sambil memegangi telinganya
yang sedikit lecet.
“Udah, Ben! Lo
kebangetan!” Ucap perempuan itu menjitak kepala orang yang dipanggilnya 'Ben'
itu.
“Udah, dek..
jangan dengerin bibir orang ini! Mulutnya kaya keran air!” Lanjut perempuan itu
segera menarik tangan Roni.
“Kak.. kita mau kemana?” Ucap Roni melihat
wajah orang itu yang lebih tinggi darinya.
“Ke kelas kamu
lah! Masa ke got sih?” Jawabnya diselingi oleh tawa.
Roni hanya bisa
tersenyum, “Mungkin.. suatu saat aku akan menyukai tempat ini..”
“Ini kelas mu kan?” Ucap perempuan itu tersenyum,
Roni hanya bisa membalasnya dengan senyuman juga.
“Cepet! Nanti event nya ketinggalan lho..” Roni hanya mengangguk
dan segera masuk ke dalam.
Tiba-tiba semua orang tertawa melihat Roni memasuki kelas
dengan wajahnya yang berbinar. Roni mengacuhkannya, dia segera duduk dan
memperhatikan keadaan sekitar, setelahnya dia segera mencoba untuk tidur.
“Woy! Malah tidur di kelas!” ucap Luna membanting sebuah
buku di hadapan Roni.
Semua orang kaget mendengar suara buku yang dibanting itu,
“Ngapain sih? Gak ada kerjaan banget!” kata Roni
mengucek-ngucek matanya.
“Biar mata lo jadi melek! Biar gak kaya panda yang matanya
item kaya muka lo!” ucap Luna memberikan sebuah buku.
“Apa dunia mau kiamat?!” ucap Roni kaget akan keanehan yang
menimpa Luna itu.
“Hey! Masih mending ya gue baik sama lo! Jarang-jarang gue
kaya gini ke orang!” ucap Luna sedikit membentak, di belakang mereka orang-orang
sedang membicarakan mereka berdua.
Tiba-tiba bel berbunyi dan semua orang kembali duduk dengan
tenang. Sambil menopang dagu dengan tangannya, Roni membayangkan kehidupannya
yang dulu.
“Pa! Aku pulang!” ucap Roni tersenyum dan wajahnya
memancarkan sebuah cahaya kebahagiaan.
Roni terus berjalan di dalam rumahnya yang luas, dia
terkadang merasa kesepian karena tak ada yang menemaninya sedikitpun. Bahkan,
kakaknya sendiri. Ya, seperti orang-orang, dia mulai terjerumus pada suatu hal
yang sangat dibenci oleh adiknya sendiri.
“Yah! Ayah dimana sih?” Roni segera mencari kemana-mana,
akhir-akhir ini ayahnya seperti ini. Semenjak ayahnya dipecat dari pekerjaannya
dulu. Roni menghela nafas,
“Mungkin ia sedang
mencari kerja?” kata Roni bergumam, kemudian dia mengangkat bahunya dan segera
menuju dapur.
Dia melihat rak-rak
yang biasanya berisi makanan, sekarang hanya berisi sebuah udara hampa.
Tiba-tiba perutnya bersuara, Roni refleks memegangi perutnya, dia sudah hampir
belum makan seharian. Dia melihat sebuah jam dinding yang ada di belakangnya.
“Masih jam tiga sore..” ucap Roni duduk di meja makan.
“..Sebentar lagi
kok..” tambahnya segera tertidur. Entah berapa lama dia tertidur, saking
nyenyaknya, dia tidak mendengar ada yang membuka pintu.
Roni segera membuka
matanya, semuanya gelap. Roni mencoba untuk menyalakan lampu, dia meraba-meraba
dinding.
“Rasanya aku masih bisa mengingat dimana tempatnya..” Roni
terus meraba-raba, setelah merasa disana letaknya, Roni segera menekannya.
“Apa mati lampu?”
ucap Roni terus meraba-raba dinding.
“Apa ayah mulai
menjadi pikun?” tambah Roni diselingi dengan gelak tawa dan langsung
memeriksanya.
“Benerkan.. pasti ayah lupa membayar listrik..” ucap Roni
mengehela nafas. Dia melihat langit malam yang sangat terang,
“Apa semuanya masih bisa seperti dulu?” kata Roni memegangi
perutnya yang masih bersuara.
“Mungkin.. aku harus
mencari makanan dulu..” kata Roni segera menutup pintu dan mencari dompetnya.
“Nah! Akhirnya!” ucap
Roni kegirangan. Dia segera berlari menuju gerbang pintu.
Dia melihat seseorang jatuh tersungkur, sejujurnya tidak
jelas siapa, tapi sepertinya..
“AYAH!” ucap Roni
kaget dan segera membangunkannya.
“Ayah! Kau tidak
apa-apa?” kata Roni mencoba untuk membantunya bangun.
“Tenang yah! Aku akan membantu!” lanjutnya terus berusaha
membantunya berdiri. Tapi, hasilnya justru ia dan ayahnya sama-sama jatuh
kembali.
“Ugh! Siapa saja!! bantu aku!” mata Roni seakan akan
menjatuhkan air mata.
Tak berapa lama dia jatuh tersungkur dan menutup mata.
“Dimana aku?” ucap
Roni membuka mata dan langsung melihat sekeliling, Roni segera berjalan mencari
sesuatu, disini sangat terang, entah karena apa yang membuat tempat ini sangat
terang.
“Halo! Apa ada orang disini?” Roni berteriak, berharap ada
yang mendengarkannya, tapi sayang, disini tak ada yang menyahutnya. Roni segera
berhenti, disini seperti tak ada ujungnya, dia melihat kemanapun sama, tak ada
ujungnya!
“Sebenarnya dimana ini? Seorang saja! Beritahu aku!” Roni
berlari mencari jalan keluar, dia tidak mau menyerah disini. Dia bisa saja mati
kelaparan, karena tadi dia tidak sempat membeli makanan satupun. Dia terus
berlari dan terus berlari, dia segera teringat, ayahnya. Ya! Ayahnya! Pasti dia
masih tertidur di tempat itu.
“AYAH!!” ucap Roni berteriak memanggil ayahnya
sekeras-kerasnya.
***
“Ayah!” ucap Roni
berteriak sampai-sampai mengagetkan semua orang yang berada di sekitarnya.
“Kau masih mengantuk, Ron?” ucap teman sebangkunya, Tio.
“Mungkin.. aku
kekurangan tidur dari kemarin.. mengganggu ya?” ucap Roni menggaruk bagian
belakang kepalanya.
“Hm..” Tio memegangi kepalanya yang sedikit pusing oleh
pelajaran yang baru saja dia pelajari, Matematika.
“..mungkin saja..
tapi kau bisa mengusir logika ku yang mulai meleleh! Terima kasih..” lanjut Tio
tersenyum kepada Roni,
“Terima kasih? Baru kali ini aku mendengar kata itu dengan
ketulusan yang luar biasa.. apa dia cuma akting?” Roni terus memandang wajah
Tio yang sangat bersih, berbeda dengannya yang wajahnya sudah seperti anak SMA.
“Terima kasih juga, Tio..” kata Roni menjitak kepala Tio
yang sangat kecil, melebihi Luna.
“Sakit!” ucap Tio memegangi kepalanya yang berdenyut,
“Ah! Lebay!” balas
Roni tertawa.
“Ah! Diem! Dibaikin malah kayak gini!” ucap Tio menyesal
telah berbuat baik kepada Roni.
“Ah.. aku kan cuma bercanda..” katanya meminta maaf. Tio
hanya terdiam sambil memegangi kepalanya yang masih berdenyut.
“Iya.. iya deh..”
Roni pun segera tersenyum lebar, tak berapa lama dia melihat ke arah bangku
Luna,
“Kosong.. kemana dia? Cepat sekali menghilangnya..” Roni
segera menyikut Tio.
“Kemana nenek lampir
itu?” ucapnya terheran-heran.
“Mana aku tau! Aku
kan sedang mengerjakan soal yang mematikan!” jawab Tio dengan nada membentak.
“Yaelah! Biasa aja kali!” ucap Roni tertawa terbahak-bahak.
Roni segera bangun dari tempatnya dan berjalan keluar kelas, di dalam kelasnya
pengap sekali
dia ingin bebas seperti
burung yang bertebangan dan menghirup udara segar setiap detiknya.
“Kalau mau di depan kelas, jangan gitu kali!” ucap seseorang
di samping Roni,
“Eh, Luna.. kemana
aja?” kata Roni mendekatinya.
“Loh? Justru lo yang
kemana aja!” ucap Luna mencubit hidung Roni dengan keras.
“SAKIT!!” kata Roni
memegangi hidungnya yang memerah dan segera berdiri kembali.
“Eh! Mau kemana lo?!” ucap Luna melihat Roni yang akan
berjalan kembali.
“Mau jalan-jalan aje! Mau ikut?” jawab Roni berjalan sambil
melambaikan tangan.
“Kebiasaan! Kesini cuma nanya gituan? Sebenrnya lo itu
makhluk apa sih!” ucap Luna semakin kesal.
Berapa banyak lagi penderitaan harus kulalui untuk dapat bertemu denganmu sekali lagi?
One more time, oh musim, jangan berubah
One more time, saat kita bercanda ria
Setiap kali kita beda pendapat, aku akan selalu yang mengalah duluan
Sifat egoismu itu malah membuatku semakin menyukaimu
One more chance, kenangan menahan langkahku
One more chance, aku tak dapat memilih tujuanku selanjutnya

0 comments:
Post a Comment